by

Jangan Jadikan Alun-alun Tegal Hanya sebagai Taman

TEGAL – Revitalisasi Alun-alun Tegal (AAT) Rp10,8 miliar mendapatkan catatan dari sejumlah fraksi di DPRD Kota Tegal. Fraksi Partai Gerindra menolak jika revitalisasi itu mengalihkan fungsi Alun-alun hanya sebagai taman.

“Fraksi Partai Gerindra mengkritisi secara konstruktif, mengikuti irama kritik dan masukan masyarakat. Kami menolak jika Alun-alun beralih fungsi sebagai taman,” kata Juru Bicara Fraksi Partai Gerindra Moh. Sefrudin saat Rapat Paripurna di Gedung DPRD, Sabtu (30/11) lalu.

Rapat Paripurna tersebut dengan agenda Persetujuan dan Penetapan Rancangan Peraturan Daerah APBD 2020. Sefrudin menerangkan, Alun-alun adalah ‘PusakaHidup’ Kota Tegal, yang mempunyai nilai historis tinggi menyangkut pemerintahan dan kemasyarakatan, juga nilai kultur heritage.

Fraksi PDI Perjuangan juga menganggap perencanaan revitalisasi belum komperehensif. “Belum memperhatikan beberapa aspek yang ada di sekitar wilayah Alun-alun. Seperti pedagang, parkir, kegiatan upacara, keagamaan, dan peruntukkannya bagi pengguna jalan,” ungkap Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan, Sutari.

Juru Bicara Fraksi PKB Fathul Iman menyampaikan, Fraksi PKB berharap Pemkot Tegal mensosialisasikan dan mengkomunikasikan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Selain itu fungsi dan penggunaannya tetap sebagai tempat upacara, pengajian, rekreasi, dan olahraga keluarga.

Fraksi Partai Golkar meminta Pemkot Tegal memperhatikan aspek-aspek kepentingan umum. Karena, revitalisasi menjadi sangat kompleks, menyangkut banyak sektor, dan sangat dinamis seiring perkembangan sosial dan ekonomi.

“Sehingga akan menjadi langkah awal Pemkot guna penyusunan dan penetapan kebijaksanaan yang tepat,” terang Juru Bicara Fraksi Partai Golkar Akhmad Satori.

Sedangkan Fraksi PKS menekankan, pelaksanaan revitalisasi banyak aspek atau variabel yang benar-benar harus disiapkan dan dipertimbangkan. Juru Bicara Fraksi PAN Rizki Aljupri mengemukakan, dengan revitalisasi tersebut, Fraksi PAN berharap Pemkot memberikan ruang kepada masyarakat dalam melakukan pengajian dan upacara kebesaran.

Selain itu, penataan pedagang kaki lima juga dilakukan agar dapat mempercantik wajah Kota Tegal. “Sehingga hilang ikon alun-alun yang selalu terkesan bau dan kumuh,” ujar Rizki. (nam/zul)

Comment