PERSAINGAN klub-klub elite untuk menjadi yang terbaik di Eropa akan dimulai 14 September nanti. Sebanyak 32 klub akan bersaing menggapai impian tampil di final Liga Champions di Wembley, London, 28 Mei 2011.
Juara bertahan Inter Milan berambisi menjadi klub pertama yang bisa menjadi juara back to back di era Liga Champions. Mereka ingin mengulang prestasi yang mereka rengkuh pada 1963-1964 dan 1964-1965, saat masih berformat Piala Champions. Masalahnya, tim berjuluk Nerazzurri tersebut tidak akan mudah ketika mengawali perjalanan di Liga Champions musim ini. Mereka tergabung di grup A bersama Werder Bremen (Jerman), Tottenham Hotspur (Inggris), dan FC Twente (Belanda). Inilah yang disebut sebagai grup maut di Liga Champions musim ini. Kekuatan keempat tim cukup merata. Meski berstatus tim debutan, tapi Tottenham dan Twente memiliki potensi merepotkan Inter dan Werder yang lebih difavoritkan lolos. Terutama Spurs -julukan Tottenham-. Klub yang musim lalu finis di peringkat keempat Premier League itu menunjukkan konsistensi pada musim lalu di pentas lokal, dan mereka melakukan penguatan dengan merekrut sejumlah pemain. Selama bursa transfer awal musim ini mereka mendatangkan Rafael van der Vaart dari Real Madrid, Sandro dari Internacional, dan William Gallas yang berstatus free transfer. Van der Vaart dan Gallas diyakini akan memberi pengaruh besar. Setidaknya, mereka memiliki pengalaman tampil di Liga Champions bersama klub sebelumnya. "Beruntung kami memiliki pemain seperti Gallas dan Van der Vaart. Mereka akan menjadi tumpuan kami di pentas Eropa," ujar Luka Modric, playmaker Spurs. Bukan hanya Inter, tim asal Italia yang harus menjadi penghuni grup berat, klub sekotanya AC Milan juga mengalami kondisi serupa. Rossoneri -julukan Milan- tergabung di grup G bersama Real Madrid (Spanyol), Ajax Amsterdam (Belanda), dan Auxerre (Prancis). Selain Auxerre, tiga penghuni grup G lainnya adalah tim dengan tradisi juara di Liga Champions. Real adalah klub tersukses dengan koleksi sembilan gelar, Milan menyusul dengan tujuh gelar, dan Ajax mengemas empat gelar. Real yang kini ditangani Jose Mourinho, pelatih yang dua kali juara di Liga Champions dengan dua klub berbeda, sangat berambisi setelah puasa gelar selama delapan tahun terakhir. Namun, Milan juga memiliki suntikan kekuatan yang dahsyat musim ini. Itu tak lepas dari kedatangan Zlatan Ibrahimovic dan Robinho jelang ditutupnya bursa transfer awal musim ini. "Saya tak bilang kami bisa juara Liga Champions dan scudetto, tapi kami akan dapatkan salah satunya," ujar Thiago Silva, bek Milan. Musim ini, klub asal Spanyol masih menjadi favorit utama di bursa taruhan. Baik Ladbrokes, William Hill, maupun Asian Handicap semuanya menjagokan Barcelona sabagai favorit utama dan Real berada di urutan kedua. Berikutnya baru klub asal Inggris, yakni Chelsea dan Manchester United. Bagi tim asal Inggris, inilah kesempatan untuk menjuarai kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa tersebut di negara mereka. Sebab, final dihelat di Stadion Wembley, London. Selain Chelsea dan United, masih ada Arsenal. "Sebuah kebanggaan bagi kami bila bisa menjuarai Liga Champions di sini (Wembley, Red). Tapi, tensu saja, di kompetisi ini segalanya tidak pernah berjalan mudah," papar Sir Alex Ferguson, manajer United. Di jajaran lima besar tim favorit juara Liga Champions, semuanya dibesut oleh pelatih-pelatih yang pernah menjuarai even itu. Bahkan, Carlo Ancelotti (Chelsea), Mourinho (Real), dan Ferguson (United) sudah dua kali merasakannya. Sedangkan, Josep Guardiola (Barcelona) dan Rafael Benitez (Inter) baru sekali. "Di kompetisi seperti ini, pengalaman dan mental juara menjadi salah satu faktor penentu dan kami memilikinya," koar Carles Puyol, kapten Barcelona. (ham)
|