PUASA adalah upaya mensucikan jiwa selama sebelas bulan barangkali telah melakukan dosa, yang bukan saja dilakukan kepada Allah namun tidak mustahil pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Maka pada bulan ramadan kita berusaha membersihkan dosa-dosa dengan melakukan ibadah kepada-Nya.
Selain kita-kita juga kembali menjalin hubungan sesama kita yang selama ini kurang atau tidak harmonis. Untuk itulah sebelum mengakhiri puasa ramadan kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah, setelahnya bersilaturahmi untuk saling bermaaf-maafan mungkin selama ini ada yang tidak bertegur sapa dengan saudaranya. Pada kesempatan ini harus menghilangkan segala dendam dan kebencian. Kita harus saling memaafkan karena Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa kita selagi kita masih punya kesalahan dengan sesama kita. Dalam sebuah hadist, Nabi Mahammad SAW menyatakan, "Tidak halal (tidak boleh) bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa (memboikot) dengan saudaranya lebih dari tiga hari. "Hadist di atas menunjukan bahwa nabi sangat menganjurkan adanya silaturahmi diantara kita. Silaturahmi adalah lambang kesatuan dan kekompakan umat islam tanpa silaturahmi umat islam akan lemah sebab mereka tidak bersatu. Bagaimana bentuk silaturahmi dan saling memaafkan yang diajurkan dalam Islam? Agama Islam mengajarkan bahwa silaturahmi haruslah didasarkan ketulusan. Artinya kita harus terlebih dulu membuang segala perasaan yang tidak enak. Semua yang telah berlalu dibuang dan menjalankan kehidupan baru lagi secara lebih baik dari masa sebelumnya sebab Islam tidak mengajarkan sifat pendendam. Rosululloh menegaskan, bahwa "Al Muminu Laisa Bihaqt" (orang beriman itu tidak punya sifat pendendam). Dengan kata lain islam tidak mengenal kata "Tiada maaf bagimu". Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin Islam harus pemaaf dan menghilangkan sifat dendam. Ada cerita populer, bagaimana sifat pemaaf Rosul kepada musuhnya. Suatu hari beliau sedang beristirahat seorang diri di belakang pohon kurma, tiba-tiba datang seorang kafir yang akan membunuhnya. Dan saat menghunuskan pedang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Mohammad siapa yang bisa melindungimu jika hari ini aku bunuh engkau?" dengan tenang Nabi menjawab,"Allah". Mendengar jawaban spontan dari Rosul, tubuh orang kafir itu bergetar dan akhirnya jatuhlah pedangnya ke tanah. Nabi pun memungut pedang dan menanyakan hal yang sama kepada si kafir. Si Kafir ketakutan dan menyatakan hanya rosulullah saja yang dapat melindungi dirinya dari kematian. Nabi pun memaafkan, tidak sedikitpun tergores rasa dendam kepada orang tersebut. Taqabballahu Minna Wa Minkum, Minal Aidzin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin (*) Oleh: Kiai M Noor Fuad Pendiri/Pengasuh Ponpes Ali Al Fuadiyah Purana Bantarbolang Pemalang
|